Wednesday, January 27, 2016

Upacara Adat Ngaben, Tradisi Sakral Umat Hindu Di Bali (Ngaben, Sacred Tradition Of Hindus in Bali)

"Ngaben" Seribu Tahun Untuk Mencapai Moksatam Jagaditha ("Cremation" Thousand Year To Achieve Mokshatam jagadhita)
Bali lebih dikenal dengan julukan "Pulau Dewata" sudah pasti pulau ini memiliki keunikan tersendiri mulai dari sikap prilaku masyarakat yang ramah, alam yang seimbang dan budayanya yang unik berbeda dengan budaya meski menganut agama yang sama yaitu hindu di India.

Bali is known as the "Island of the Gods" is definitely the island has unique characteristics ranging from the friendly attitude of people's behavior, nature balanced and unique culture different from the culture despite the same religion of Hindu in India.

ngaben 33

Bali disebut dengan “Pulau Seribu Pura”, karena Bali hampir setiap hari ada upacara yang disebut dengan rahinan, dimulai dari upacara sederhana sampai dengan upacara besar agama Hindu yang memerlukan banyak tempat suci. Upacara besar agama dimana seluruh masyarakat Bali melakasanakannya seperti; Galungan, Kuningan, Nyepi, dan hari besar umat Hindu lainnya. Sedangkan upacara sederhana dimana hanya keluarga tertentu saja yang melaksanakannya. Oleh karena itu Bali sangat terkenal dengan sebutan Pulau Dewata. Mungkin seperti inilah kehidupan dialam dewata.

Bali is called the "Island of Thousand Temples", because in Bali almost every day there is a ceremony called the rahinan, starting from a simple ceremony to the great Hindu religious ceremonies. Big ceremony where all the Balinese conducted such as; Galungan, Kuningan, Nyepi, and the other Hindus ceremony. While a simple ceremony in which only certain families who carry it out. Therefore, Bali is known as the Island of the Gods. Maybe like this the life of a lord.

ngaben 34

Banyaknya pura, dan hampir setiap sudut tanah disucikan sehingga masyarakatnya diajarkan untuk takut berbuat dosa dan selalu dalam keadaan suci dengan tidak berbuat asusila. Budaya secara turun temurun ini menjadikan masyarakat Bali tidak hanya tunduk kepada kebesaran Tuhan akan tetapi menjadikan dunia ini bersih dan suci seperti didalam surga baik dari pikiran, perkataan dan perbuatan.

The number of temples, and nearly every corner of the land were purified  so that people are taught to fear sin and always in a state of purity by not doing immoral. Culture hereditary makes Balinese not only subject to the greatness of God's will but make it clean and pure as heaven in both of our thoughts, words and deeds.

ngaben 25

Pada intinya ada lima hal yang menjadi keyakinan umat hindu di Bali dibalik beraneka ragam upacara yang ada sebagai turunan dari lima hal yang diyakini itu. Percaya dengan adanya Tuhan yang menurunkan beraneka macam ritual keagamaan yang ditujukan kepada Tuhan dan manifestasinya. Tuhan hanya satu namun orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama seperti dalam sloka "Ekam Satwiprah Bahuda Wadanti", oleh sebab itu jangan pernah tidak percaya dengan keyakinan dari umat yang lainnya. Percaya dengan keberadaan leluhur. Kita ada karena keberadaan orang tua, dan orang tua ada karena keberadaan Kakek Nenek dan seterusnya.

In essence there are five things of Balinese conviction which create diverse ceremony as a derivative of the five things believed. Believe in the existence of God which degrade a wide range of religious rituals addressed to God and manifestations. God is only one, but the wise call it by many names such the holly book said "Ekam Satwiprah Bahuda Wadanti", therefore, do not ever not believe to other people religion. Believe in the existence of ancestors. We exist because of the presence of the parents, and the parents exist due to the existence of Grandfather and Grandmother and so on.

ngaben 22

Hal ini juga menurunkan banyak ritual keagamaan termasuk upacara Ngaben (pembakaran jenasah). Percaya dengan adanya hukum Karmapala atau hukum tegasnya Tuhan. Salah adalah salah dan benar adalah benar. Percaya dengan adanya Phunarbawa atau kelahiran kembali. Ada kelahiran dan ada kematian seperti sebuah perputaran. Ada yang lahir kaya dan baik rupa, namun ada pula yang miskin serta cacat dan bahkan lahir dengan derajat yang lebih rendah dari manusia yaitu Binatang, Tumbuhan dan alam para setan atau Bhutakala. Dan yang paling tertinggi adalah Percaya dengan tujuan hidup yang utama yaitu Moksatam Jagaditha Ya Caiti Dharma, atau menyatu dengan Tuhan.

It also lowers many religious rites including cremation ceremonies (Ngaben). Believe with Karmapala law or the strict law of the Lord. Wrong is wrong and right is right. Believe with Phunarbawa or rebirth. There is a birth and death as a turnaround. Some are born in such a rich and good man, but some are poor and disabled and even birth to a lesser degree than humans such animals, plants and nature of the devil or bhutakala. The Highest of all is believing the main purpose of life is Moksatam Jagaditha Ya Caiti Dharma, or one with God.

ngaben 21

Menyatu dengan Tuhan juga melalui beberapa tahap. Sebab tidak ada manusia yang maha sempurna tanpa dosa. Oleh sebab itu di Bali mengenal sebuah dunia para Dewa yang disebut dengan Dewa Hyang. Ngaben merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh Umat Hindu di Bali yang tergolong upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada Leluhur). Ngaben secara etimologis berasal dari kata api yang mendapat awalan nga, dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan terjadi pergeseran kata menjadi ngaben.

One with God also through several stages. For there is no man who is most perfect without sin. Therefore, in Bali believed there is under Gods world upper than the world of humman called the Gods Hyang. Cremation is a ceremony performed by Hindus in Bali which is classified to Pitra Yadnya ceremony (ceremony that was proposed to the Ancestors). Cremation is etymologically derived from the word of fire (api) that got nga prefix, and an suffix, so be ngapian, which are encoded into ngapen which gradually shifts into ngaben.

ngaben 23

Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api konkret (api sebenarnya) dan api abstrak (api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara). Versi lain mengatakan bahwa ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Leluhur untuk perjalannya ke Sunia Loka. (Sumber wikipedia).

Cremation ceremony always involves fire, there are two type of fire used, in the form of concrete fire (fire actually) and abstract fire (fire from holly words of a pastor who led the ceremony). Another version says that cremation is derived from the word Beya (provision), so that also means a symbolic to prepare on our ancestor through the journey to Sunia Loka (a life after death). (Source wikipedia)

  ngaben 24

Seperti upacara - upacara lainnya yang ada, ngaben memiliki rangkaian upacara yang dijalankan seperti "Ngulapin" yaitu Upacara untuk memanggil Sang Atma. Upacara ini juga dilaksanakan apabila yang bersangkutan meninggal di luar rumah yang bersangkutan (misalnya di Rumah Sakit, dll). Upacara ini dapat berbeda-beda tergantung tata cara dan tradisi setempat, ada yang melaksanakan di perempatan jalan, pertigaan jalan, dan kuburan setempat.Upacara memandikan dan membersihkan jenazah yang biasa dilakukan di halaman rumah keluarga yang bersangkutan (natah). Prosesi ini juga disertai dengan pemberian simbol-simbol seperti bunga melati di rongga hidung, belahan kaca di atas mata, daun intaran di alis, dan perlengkapan lainnya dengan tujuan mengembalikan kembali fungsi-fungsi dari bagian tubuh yang tidak digunakan ke asalnya, serta apabila roh mendiang mengalami reinkarnasi kembali agar dianugrahi badan yang lengkap (tidak cacat).

As the other ceremonies, cremation has a series of agendas to  run such "Ngulapin" is a ceremony to call the Atma (human soul). The ceremony was carried out if the person concerned died outside home (eg in hospital, etc.). This ceremony can vary depending on the procedure and the local traditions, there are carrying out at the crossroads, fork in the road, and the local cemetery.
Bathing and cleaning ceremony to corpse in the family's home yard (natah) as usually. The procession is also accompanied by provision symbols such as inserting jasmine in the nasal cavity, a small peaces of glass covering the eyes the neem leaves on the brow, and other equipment with the aim of restoring the functions of the body that is not longer usefull in the life after death, and if the spirit of the late are reincarnated again then by conducting this ceremony will be awarded a full body (not disabled).

ngaben 26

Upacara ngaben secara konsepsional memiliki makna dan tujuan sebagai berikut :
1. Dengan membakar jenazah maupun simbolisnya kemudian menghanyutkan abu ke sungai, atau laut memiliki makna untuk melepaskan Sang Atma (roh) dari belenggu keduniawian sehingga dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam)
2. Membakar jenazah juga merupakan suatu rangkaian upacara untuk mengembalikan segala unsur Panca Maha Bhuta (5 unsur pembangun badan kasar manusia) kepada asalnya masing-masing agar tidak menghalangi perjalan Atma ke Sunia Loka. Bagian Panca Maha Bhuta yaitu : Pertiwi : unsur padat yang membentuk tulang, daging, kuku, dll. Apah: unsur cair yang membentuk darah, air liur, air mata, dll. Bayu : unsur udara yang membentuk nafas. Teja : unsur panas yang membentuk suhu tubuh. Akasa : unsur ether yang membentuk rongga dalam tubuh.

Conceptually cremation ceremony has meaning and purpose as follows:
1. By burning the bodies or symbolically to it then washed ash into the river, or sea have meaning to release the Atma (soul) from the shackles of worldliness that can easily be united with God (Mokshatam Atmanam)
2. Burn the bodies is also a series of ceremonies to restore all the elements of human body Panca Maha Bhuta (5 building blocks of the human gross body) to where each comes from so as not to obstruct the course of Atma (soul) to Sunia Loka (heaven). Part of Panca Maha Bhuta, are:  Pertiwi (Earth) to all solid elements such bone, flesh, nails, etc. Apah to all liquid elements that make up the blood, saliva, tears, etc. Bayu for air elements that make up the breath. Teja are heat elements that make up the body temperature. Akasa are ether elements that form in the body cavity.
  ngaben 29

3. Bagi pihak keluarga, upacara ini merupakan simbolisasi bahwa pihak keluarga telah ikhlas, dan merelakan kepergian yang bersangkutan.

3. For the family, this event is a symbol that family had been sincere, and never sad of their beloved family member passed away.

ngaben 30

Kajang adalah selembar kertas putih yang ditulisi dengan aksara-aksara magis oleh pemangku, pendeta atau tetua adat setempat. Setelah selesai ditulis maka para kerabat dan keturunan dari yang bersangkutan akan melaksanakan upacara ngajum kajang dengan cara menekan kajang itu sebanyak 3x, sebagai simbol kemantapan hati para kerabat melepas kepergian mendiang dan menyatukan hati para kerabat sehingga mendiang dapat dengan cepat melakukan perjalanannya ke alam selanjutnya.

Kajang is a white piece of paper inscribed with magical scripts by priest, pastors or local elders. Once when it have writed the relatives and descendants of the concerned will perform the ceremony of "ngajum kajang" by pressing it 3x, as a symbol of the blessing hearts of relative and family to release their beloved family member passed away and can be quickly made way into the next realm without any sadness.

ngaben 30

Ngaskara bermakna penyucian roh mendiang. Penyucian ini dilakukan dengan tujuan agar roh yang bersangkutan dapat bersatu dengan Tuhan dan bisa menjadi pembimbing kerabatnya yang masih hidup di dunia. Mameras berasal dari kata peras yang artinya berhasil, sukses, atau selesai. Upacara ini dilaksanakan apabila mendiang sudah memiliki cucu, karena menurut keyakinan cucu tersebutlah yang akan menuntun jalannya mendiang melalui doa dan karma baik yang mereka lakukan.

"Ngaskara" means purification to the spirit of the late. Sanctification is done with the goal of keeping the spirit united with God and can be a mentor to all relatives and family who still live in the world. "Mameras" derived from the word meaning wring succeed, success, or completed. This ceremony is carried out if the late already have grandchildren, because according to the belief grandchildren will guide the late through their pray and good deeds they do.

ngaben 32

Papegatan berasal dari kata pegat, yang artinya putus, makna upacara ini adalah untuk memutuskan hubungan duniawi dan cinta dari kerabat mendiang, sebab kedua hal tersebut akan menghalangi perjalan sang roh menuju Tuhan. Dengan upacara ini pihak keluarga berarti telah secara ikhlas melepas kepergian mendiang ke tempat yang lebih baik. Sarana dari upacara ini adalah sesaji (banten) yang disusun pada sebuah lesung batu dan diatasnya diisi dua cabang pohon dadap yang dibentuk seperti gawang dan dibentangkan benang putih pada kedua cabang pohon tersebut. Nantinya benang ini akan diterebos oleh kerabat dan pengusung jenazah sebelum keluar rumah hingga putus.

"Papegatan" derived from a word "Megat", which means breaking up, the meaning of this ceremony is to disconnect worldly and love of relatives of the late, because both of these will hinder the journey of the soul towards God. With this ceremony mean the family has outright release late departure to a better place. The ingredients of this ceremony is offering  are arranged in a stone mortar and above filled with two branches of dadap tree formed like the football goal and stretched with white thread on the two branches of the tree. Later this thread will be intruded by relatives and pallbearers before leaving the house to break up.

ngaben 31

Setelah upacara papegatan maka akan dilanjutkan dengan pakiriminan ke kuburan setempat, jenazah beserta kajangnya kemudian dinaikan ke atas Bade/Wadah, yaitu menara pengusung jenazah (hal ini tidak mutlak harus ada, dapat diganti dengan keranda biasa yang disebut Pepaga). Dari rumah yang bersangkutan anggota masyarakat akan mengusung semua perlengkapan upacara beserta jenazah diiringi oleh suara Baleganjur (gong khas Bali) yang bertalu-talu dan bersemangat, atau suara angklung yang terkesan sedih. Di perjalan menuju kuburan jenazah ini akan diarak berputar 3x berlawanan arah jarum jam yang bermakna sebagai simbol mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing.

After "papegatan" ceremony will be followed by "pakiriminan" to the local cemetery, and  body of the late then raised to the top of Bade / wadah , is a tower of means to carry the corpse to the grave (this is not an mandatory thing to have, can be replaced with a plain coffin called Pepaga). From the house concerned community members will carry all equipment and their ceremony materials accompanied by the sound of Baleganjur (Balinese gong) pounding and excited, or Angklung voice that seemed sad. On the journey to the grave bodies will be paraded 3x rotates anticlockwise and serves as a symbol of restoring Panca Maha Bhuta elements to their respective places.

ngaben 15

Selain itu perputaran ini juga bermakna:
Berputar 3x di depan rumah mendiang sebagai simbol perpisahan dengan sanak keluarga. Berputar 3x di perempatan dan pertigaan desa sebagai simbol perpisahan dengan lingkungan masyarakat. Berputar 3x di muka kuburan sebagai simbol perpisahan dengan dunia ini.

In addition, this rotation also means:
3x spinning in front of the house of the late as a symbol of godbye to relatives. Spin 3x in T-junction at the intersection of the village as a symbol of separation from society. Spin 3x in advance grave as a symbol farewell to this world.

ngaben 14

Ngeseng adalah upacara pembakaran jenazah tersebut, jenazah dibaringkan di tempat yang telah disediakan , disertai sesaji dan banten dengan makna filosofis sendiri, kemudian diperciki oleh pendeta yang memimpin upacara dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra dari pendeta, setelah selesai kemudian barulah jenazah dibakar hingga hangus, tulang-tulang hasil pembakaran kemudian digilas dan dirangkai lagi dalam buah kelapa gading yang telah dikeluarkan airnya.

"Ngising" is the burial of the corpse, the corpse was laid in the provided space, accompanied by offerings with its own philosophical meaning, then sprinkled by the priest who presided over the ceremony with "Tirta pangentas" (Pangentas holly water) which acts as an abstract flame accompanied by hymn of priest, once completed later then body was burned up, the bones of combustion then crushed and assembled again in ivory palm fruit that has dried up.

ngaben 27

Nganyud bermakna sebagai ritual untuk menghanyutkan segala kekotoran yang masih tertinggal dalam roh mendiang dengan simbolisasi berupa menghanyutkan abu jenazah. Upacara ini biasanya dilaksakan di laut, atau sungai. Makelud biasanya dilaksanakan 12 hari setelah upacara pembakaran jenazah. Makna upacara makelud ini adalah membersihkan dan menyucikan kembali lingkungan keluarga akibat kesedihan yang melanda keluarga yang ditinggalkan. Filosofis 12 hari kesedihan ini diambil dari Wiracarita Mahabharata, saat Sang Pandawa mengalami masa hukuman 12 tahun di tengah hutan.

"Nganyut" means  to wash away all dirt that is still left in the spirit of the deceased with a symbol in the form of washed ashes. The ceremony usually  conduct at sea, or river. "Makelud" usually carried out 12 days after the burial ceremony. The meaning of this ceremony is to clean and purify back family environment due to the grief that struck the family left behind. Philosophical 12 days of grief is taken from the epic Mahabharata, when the Pandavas suffered a sentence of 12 years in the jungle.

Upacara Ngaben Di Bali

Melebur dengan Api. Dengan api akan mempercepat proses peleburan sthula sarira (badan kasar) yang berasal dari Panca Mahabutha untuk menyatu kembali ke alam semesta ini. Proses percepatan pengembalian unsure-unsur Panca Mahabhuta ini tentunya akan mempercepat pula proses penyucian sang atma untuk bisa sampai di alam Swahloka (Dewa Pitara) sehingga layak dilinggihkan di sanggah/merajan untuk disembah.

Fused with Fire. Fire will accelerate the melting process of "sthula sarira" (human body) which derived from "Panca Mahabutha" to converge back to this universe. Acceleration of the return process of "Panca Mahabuta" elements will certainly accelerate the process of purification of the atma (Soul) to get in nature Swahloka (one level obove human) so worth to be placed in the merajan/ family temple and to be worshiped. Surely after a ceremony "mamukur" which is a continuation of the "cremation".

Upacara Ngaben Di Bali

Saya kaget mendengar penuturan seorang warga. Menurutnya, dia baru saja menghabiskan dana Rp 250 juta untuk melaksanakan ritual Ngaben (pembakaran mayat) ibunya yang meninggal beberapa waku lalu. Angka yang cukup fantastic untuk sebuah ritual Hindu di Bali. Namun menurutnya, uang itu belum seberapa bila dibandingkan dengan biaya yang dkeluarkan oleh seorang Raja di Bali dulu bila mengadakan upacara Ngaben, yang angkanya  konon mencapai Rp 1 miliar. Tetapi meski Raja itu mengeluakkan biaya yang cukup besar, tapi kepercayaannya yang tinggi menjadikan uang adalah bukan segala - galanya.

I was shocked to hear the narrative of a citizen. According to him, he had just spent 250 million to carry out the ritual cremation to his mother who died a few time ago. Figures are pretty fantastic for a Hindu ritual in Bali. But according to him, the money was not the worst when compared with the cost spent by a king in Bali in the past when the cremation ceremony was conducted , the figure is said to reach  up to 1 billion. But even though the king was spending considerable high cost, but high  believe on this ceremony to make money is not everything.

ngaben 8

Bagaimana dengan mereka yang tidak mempunyai dana. Di Bali juga ada Ngaben Massal yang dilakukan secara khusus kepada mereka yang keluarganya tidak mempunyai dana. Biasanya mayat sudah dikuburkan atau dibakar lama sebelum upacara ngaben dilakukan, sehingga ketika Ngaben dilakukan maka keluarga melakukan penggalian kuburan untuk mengambil sisa - sisa yang ada didalam kubur. Dan bahkan hanya sebuah simbolis saja dikarenakan umur kuburan yang sudah terlampau lama hanya menyisakan tanah saja.

What about those who do not have the funds. In Bali there is also a Bulk Cremation Ceremony conducted specifically to those whose families do not have the fundsUsually the bodies had been buried or burned out long before cremation ceremony is conducted, so that when cremation is conducted then the family will dig the grave with its additional ceremony to take a rest  that are still in the graves. And even just a symbolic  due to age of a gravs that is already too old, leaving only the land.

ngaben 16

Ngaben merupakan salah satu upacara besar di Bali. Salah satu rangkaian upacara Pitra Yadnya ini merupakan upacara untuk orang yang sudah meninggal. Ngaben adalah upacara penyucian atma (roh) , sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya, dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. Ngaben sendiri adalah peleburan dari ajaran Agama Hindu dengan adat kebudayaan di Bali.

Cremation is one of the big ceremony in Bali. One of a series of  "Pitra Yadnya" ceremonies a ceremony for the deceased person. Cremation is an atma's (soul) purification ceremony, a Balinese Hindu holy obligation to their ancestors. Cremation itself is a fusion of Hinduism with the culture of Bali.

ngaben 19

Di setiap daerah di Bali adalah hal yang lazim jika urutan acara dalam tata cara pelaksanaan Ngaben akan berbeda walaupun esensi upacara tersebut sama. Ini berkaitan dengan kepercayaan adat Bali yang mengenal adanya Desa Kala Patra yang secara harfiah di terjmahkan menjadi tempat, waktu dan keadaan.


In every area of Bali is a common thing if the sequence of the event of Ngaben  will be different but the essence is the same. It deals with traditional Balinese belief that recognize the existence of Desa, Kala, Patra are literally translated into place, time and circumstances.

ngaben 7

Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Upacara Ngaben biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal, karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya. Mereka beranggapan bahwa, memang jenasah untuk sementara waktu sudah tidak ada, tetapi akan menjalani reinkarnasi atau menemukan pengistirahatan terakhir di Moksha (bebas dari roda kematian dan reinkarnasi).

Cremation ceremony is usually held by the family and relatives of those who died, as a form of respect of a childs to their parents. Cremation ceremony is usually performed with a lively, no sobs, because in Bali there is a belief that we should not weep for the dead, because it can inhibit the soul trip to the life after death's place. They assume that, indeed corpse for a while is no longer in this world, but will undergo reincarnation or hopefully find the last rest in peace Moksha (freedom from the wheel of death and reincarnation).

ngaben 20

Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat berkumpul satu dengan yang lainnya untuk membantu membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya, menuju surga, atau menjelma kembali ke dunia melalui reinkarnasi menjadi yang lebih baik, dan ini sangat tergantung dari karmaphala seseorang selama masih hidup.

Cremation ceremony or sometimes called "Pelebon ceremony" to those who died, are considered very important, crowded and lively, as through this ceremony the family can gather one another to help releasing the spirits of people who died from earthly ties, to heaven, or transformed back to the world through reincarnation into a better, and this is very dependent on someone's karmaphala during life.

ngaben 6

Ngaben tidak senantiasa dilakukan dengan segera. Untuk Keluarga berada, sangatlah wajar untuk melakukan ritual ini dalam waktu 3 hari. Tetapi untuk keluarga yang belum memiliki dana, karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan besar, maka hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian. Jenasah terlebih dahulu dikuburkan, biasanya baru akan dilakukan ritual Ngaben, secara bersama-sama dalam satu kampung.

Cremation is not always done immediately. For a wealth Families, it is reasonable to perform this ritual within 3 days. But for families who do not have the funds, because this ceremony requires an enough effort, cost and time length, this is often done so long after death. Bodies were first buried and then, usually this ritual will be performed together in one village.

ngaben 17

ngaben 18

Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yang dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan.

Generally, the combustion process of an intact corpse to ashes takes 1 hour. This ash is then collected and assembled in ivory palm fruit name "sekah". This Sekah that washed into the sea, because the sea is a symbol of the universe and at the door to the house of the Lord.

Upacara Ngaben Di Bali

Segala perbuatan ini menyebabkan adanya bekas (wasana) pada jiwatman. Bekas- bekas perbuatan (karma wasana) itu ada bermacam- macam, jika yang melekat bekas- bekas keduniawian maka jiwatman akan lebih cenderung dan gampang ditarik oleh hal- hal keduniawian sehingga jiwatman itu lahir kembali.

deeds will certainly tarnish (wasana) the soul  ( jiwatman). Trace of deeds (karma wasana) will variety in its form, if the trace of worldliness inherent inside of the soul (jiwatman) then soul (jiwatman) will be more likely and easily withdrawn by the mundane things that causing reborn or reincarnation back to the world.

Upacara Ngaben Di Bali

Dalam Bhagavad-Gita Sang Krisna berkata:
Wahai Arjuna, kamu dan Aku telah lahir berulang- ulang sebelum ini, hanya Aku yang tahu sedangkan kamu tidak, kelahiran sudah tentu akan diikuti oleh kematian dan kematian akan diikuti oleh kelahiran.

In the Bhagavad-Gita Krishna said:
O Arjuna, you and I have been born again and again before this, only me knowing this while you will never know about, the birth of course will be followed by death, and death will be followed by birth.

ngaben 10

Jika kita perhatikan bahwa alam ini semuanya mengalami siklus ( perputaran ). Bahkan planet-planet ini bisa stabil pada tempatnya karena berputar. Ada perputaran siang dan malam, Perputaran waktu, perputaran rantai makanan, perputaran dari air laut mejadi awan, kemudian turun hujan dan kembali ke laut, dan masih banyak lagi jenis-jenis perputaran kehidupan. Intinya bahwa segala sesuatu di alam ini mengalami perputaran sehingga bisa stabil. Demikian juga manusia yang lahir, tumbuh besar, kemudian meninggal maka akan mengalami perputaran untuk lahir kembali. Dari pemahaman ini jelas bahwa manusia akan mengalami punarbhawa.

If we note that the nature experienced on a cycle (rotation). Even planets can be stabilized in place as it rotates. There are day and night turnover, turnover time, the velocity of the food chain, the velocity of sea water form the clouds, then rain and back to the sea, and there are many more types of rotation of life. The point is that everything in the universe is rotating so that it can be stable. Likewise, humans are born, grow up, and then dies it will undergo on rotation for rebirth. From this understanding is clear that humans will experience on punarbhawa (reinkarnation).

  ngaben 9

Seperti halnya sang jiwatman yang melewatkan waktunya dalam badan ini dari masa kanak-kanak, remaja dan usia tua, demikian juga bila ia berpindah ke badan yang lainnya. Orang bijaksana tak akan terbingungkan oleh hal ini. ( Bab II, sloka 13 ) Bagaikan seseorang yang menanggalkan pakaian usang dan mengenakan pakaian lain yang baru, demikianlah jiwatman yang berwujud mencampakkan badan lama yang telah usang dan mengenakan badan jasmani baru. ( Bab II, sloka 22 ) Bagi seseorang yang lahir, kematian sudahlah pasti dan pasti ada kelahiran bagi mereka yang mati, sehingga terhadap hal yang tak terrelakkan ini janganlah engkau berduka. ( Bab II, sloka 27).

As with the jiwatman (soul) who spend time in this body from childhood, adolescence and old age, as well as when it moved to another entity. A wise man will not be puzzled by this. (Chapter II, sloka 13) Like someone who undress and put on worn other new clothes, tangible jiwatman (soul) dumped the old body that has been worn and wearing a new physical body. (Chapter II, sloka 22) For someone who is born, death is a certainty and there must be born to those who died, so for this things thou shalt not grieve and sad. (Chapter II, sloka 27).

ngaben 12

Setelah upacara ini, keluarga dapat tenang mendoakan leluhur dari tempat suci dan pura masing-masing. Inilah yang menyebabkan ikatan keluarga di Bali sangat kuat, karena mereka selalu ingat dan menghormati lelulur dan juga orang tuanya. Terdapat kepercayaan bahwa roh leluhur yang mengalami reinkarnasi akan kembali dalam lingkaran keluarga lagi, jadi biasanya seorang cucu merupakan reinkarnasi dari orang tuanya.

After this ceremony, the family can happily pray for ancestors of shrines and temples respectively. This can lead to family ties in Bali is very strong, because they always remember and honor the ancestor and also parents. There is a belief that the spirits of ancestors who are reincarnated will be back in the family circle again, so usually a grandchild is the reincarnation of their ancestors.

ngaben 13

Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia, berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya.

Status of the rebirth of the spirit of the deceased, is closely related to karma and actions and behavior during a previous life. In general, the Balinese feel that the spirit reborn to this world only in the family circle that having blood relationship with them. The circle of life and death for the people of Bali is because of their relationship with their ancestors.

ngaben 11

Manusia dalam perjalanan hidupnya hendaknya tidak mengotori bumi ini. Setelah meninggalkan bumi ini, maka jasad seorang manusia akan kembali keasalnya baik berupa udara, tanah, air, dan partikel lainnya meski dikubur, dibakar atau ditaruh dimana saja. Hilang ditelan bumi dan kembali kita melihat lautan yang biru sebagai simbul kebesaran tuhan. Karena umat hindu percaya akan Punarbawa atau lahir kembali kedunia maka mungkin saja kita telah hidup beribu - ribu tahun di dunia ini dengan tujuan Moksatham Jagadita Ya Caiti Darma atau bersatu dengan Tuhan. Ngaben adalah wujud doa dari keluarga agar anggota keluarga mencapai tujuan hidup tertinggi ini disamping menjaga kebersihan bumi dengan tidak meninggalkan kotoran di bumi. Jasad sama halnya dengan batu atau daun - daun kering setelah roh meninggalkan jasad itu.  Jadi jangan sia -siakan hidup ini, selalu berbuat baik. Karena mungkin saja kita telah mengarungi beribu - ribu tahun sehingga menjadi manusia sempurna dan hendak bersatu dengan Tuhan nantinya. Saya tidak mau lahir kembali pada saat dunia tidak bermentari.

Humans in the course of their life should not pollute the earth. After leaving this earth, then the body of a human going back to its origin the form of air, soil, water, and other particles, although buried, burned or placed anywhere. Lost in the earth and return back to see a wide and blue of the sea as a symbol of the greatness of God. Hindus believe on Punarbawa or reborn into the world again then it is possible that we have lived a thousand years in this world with a purpose to reach Moksatham Jagadita Ya Caiti Darma or union with God. Cremation is a form of efforts of families for family members to achieve the highest goal of life beside in addition to maintaining the cleanliness of the earth by not leaving the dirt in the earth. The bodies as well as stones or  dried leaves after the spirit leaves the body.  So do not waste your time in this life, always do good. Because maybe we have walked through thousands  of years to become a perfect man and is about to unite with God. I do not want to be born again when the world does not have a sun.





 Article by Ketut Rudi Utama From Many Sources
 Photo by Ketut Rudi and Molina Olivia @ ngaben ceremony to my beloved grandmother "Amor Ring Acintya" Rest In Peace
 Location : Sangsit Village Bali

No comments:

Post a Comment